Bayongbong, Garut — Pesantren Persatuan Islam (PPI) 183 Al-Manar menyelenggarakan Tabligh Akbar. Kegiatan di Sabtu 20 Juni 2026 ini mengusung tema “Pendidikan Persis untuk Mewujudkan Generasi Beradab dan Berdaya Saing.” Acara di hari kedua Haflah Imtihan ini dihadiri oleh jamaah, wali santri, tokoh masyarakat, utusan jamaah sekitar serta keluarga besar Pesantren Persatuan Islam 183 Al-Manar.
Acara dipandu oleh Ustadz Afan Herdiana, S.Pd.I. Setelah dibuka kegiatan beralih ke pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an. Surat Al-Tahrim dilantunkan oleh santri kelas IX SMP Persis Al-Manar yaitu ananda Reyfan Muhammad Hanif. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menambah kekhusyukan suasana pembukaan.
Usai Pembacayaan Ayat Suci Alquran dilaksanakan santunan kepada anak yatim. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Pelaksana Haflah Imtihan, Ustadz Abdurrahman Darmawan, S.Ag. Santunan ini merupakan bentuk kepedulian sosial pesantren kepada masyarakat serta upaya menumbuhkan semangat berbagi dan kasih sayang terhadap sesama.
Sambutan pertama disampaikan Mudir ‘Am PPI 183 Al-Manar. Ustadz Dr. Yusup Tajri, M.Pd., menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan ke keluarga besar pesantren. Beliau pun mengisahkan perjalanan panjang berdirinya Pesantren Al-Manar yang diawali dari aktivitas dakwah pada era 1980-an oleh para tokoh yang berjuang sambil bekerja dan menuntut ilmu di Bandung. “Sekitar tahun 1982 berdiri Pimpinan Jamaah (PJ) Persis yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya berbagai lembaga pendidikan di Al-Manar. Diawali dari Madrasah Diniyah (MD) tahun 1986, kemudian Raudhatul Athfal di tahun 1990, serta SMP pada tahun 2012,” ujar ustadz Yusup.
Sebagai Mudir ‘Am, beliau memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara aset pesantren, meningkatkan kesejahteraan warga pesantren, mengembangkan jenjang pendidikan, serta mengoptimalkan program wakaf produktif demi keberlangsungan dakwah dan pendidikan. Di akhir sambutannya, beliau berharap agar seluruh perjuangan dan pengorbanan para pendahulu serta seluruh keluarga besar pesantren menjadi amal saleh yang mendatangkan keberkahan dan pahala dari Allah SWT.
Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua PC Persis Bayongbong, Ustadz Amung Efendi Hidayat. Dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan Haflah Imtihan dan Tabligh Akbar, termasuk kepada mubaligh yang hadir memberikan tausiyah.
Beliau menyampaikan keyakinannya bahwa ke depan akan lahir berbagai lembaga pendidikan Persis di berbagai wilayah yang berada di lingkungan PC Persis Bayongbong. Menurutnya, keberhasilan pengembangan pendidikan di Kampung Cioyod dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi jamaah Persis di daerah lainnya dalam membangun dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam yang berkualitas.
Sebagai puncak acara, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Gungun Abdul Basith, M.Ag. Dalam ceramahnya beliau menjelaskan bahwa terdapat tiga unsur utama yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan, yaitu: Guru atau asatidz, Murid atau santri, dan Orang tua. Ketiga unsur tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam membentuk generasi yang unggul. Beliau kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Berdasarkan hadits tersebut, beliau mengajak seluruh pihak untuk memaksimalkan perannya masing-masing. Orang tua hendaknya memperbanyak sedekah jariyah dan mendukung pendidikan anak-anaknya. Para asatidz harus bersungguh-sungguh dalam mentransfer ilmu dan membimbing peserta didik. Adapun para santri harus memaksimalkan kesungguhan dalam menuntut ilmu sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Dr. H. Gungun Abdul Basith juga mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT. Beliau mencontohkan keteladanan Nabi Sulaiman AS yang tetap bersyukur ketika mendapatkan berbagai kenikmatan, serta Nabi Ayyub AS yang tetap bersabar ketika diuji dengan berbagai kesulitan.
Beliau menjelaskan adanya dua bentuk nikmat, yaitu nikmat maftuhah (nikmat yang tampak terbuka dan terlihat jelas) serta nikmat marbuthah (nikmat yang tersimpan dan tidak selalu disadari oleh manusia). Oleh karena itu, setiap muslim harus senantiasa mensyukuri seluruh nikmat yang Allah berikan dalam berbagai keadaan.
Mengakhiri tausiyahnya, beliau menegaskan bahwa generasi beradab dimulai dari masjid. Masjid harus menjadi pusat pembinaan keimanan, akhlak, ilmu pengetahuan, dan peradaban umat. Dari masjid akan lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan daya saing yang tinggi.
Kegiatan Tabligh Akbar Haflah Imtihan Pesantren Persatuan Islam 183 Al-Manar berlangsung dengan lancar, penuh khidmat, dan mendapatkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat. Semoga kegiatan ini menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah serta menumbuhkan semangat bersama dalam mewujudkan generasi beradab dan berdaya saing sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Persatuan Islam. (Fjl)






