Beranda / Uncategorized / Ustadz Imam yang Kukenal

Ustadz Imam yang Kukenal

“Innä lillähi wainnä ilaihi räji’ün..
Amang ngantunkeun nembè …(Paman meninggal dunia barusan),” tulis Abdurahman di grup WA keluarga. Saya membaca kiriman salah satu adik saya tersebut dengan terkejut. “Mang Imam?” tanya saya kemudian. “Muhun (Ya),” jawab Taufik adik saya yang lainnya. Setelah yakin saya pun menjawab “Inalillahi…,” diikuti èmot menangis.

Kesedihan tidak berhenti dengan diterima kabar meninggal tersebut. Peristiwa wafat mang Imam ini terjadi di Selasa pagi. Hari dengan tanggal 20 Januari 2026 itu menempatkan saya di Tinggi Moncong Sulawesi Selatan. Guna mengantar Kafilah Du’at dan mengetahui kondisi ril lapangan pengabdian alumni IAI Persis Garut dan Ma’had Al-Asma Sumedang tersebut tersebut telah menyebabkan kaki saya menginjak bandara Sultan Hasanudin sekitar pukul 00.30 hari Senin.

Hari Selasa sudah dijadwalkan untuk kembali ke kampung halaman dengan penerbangan sekitar pukul 12.00 WIT. Takdir Alläh Subhänahu wa Ta’äla sebelum meninggalkan kecamatan Tambolo Pao harus mengetahui perkara yang menambah kuat untuk kembali ke kampung halaman. Namun, perjalanan dari rumah H. Cucun ke Bandara yang ditemani ustadz Nanang menghabiskan sekitar 3 jam. Belum lagi jadwal penerbangannya pukul 12 siang. Hanya keinginan yang tinggi, kenyataan tak dapat dilampaui sesuai harapan. Tiba di bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 14.00 WIB. Meski memilih kereta Whoosh ternyata jarak Bandara ke Stasiun Halim memerlukan sekitar 3 jam. Ditambah dari stasiun Kereta Cepat tersebut agak susah mencari kendaraan umum menuju kota Dodol.

Akhirnya saya tiba di tanah kelahiran sekitar pukul 22.30 WIB. Setelah menyimpan barang bawaan saya langsung ke rumah duka. Meski jenazah sudah tiada namun masih dapat berjumpa keluarga yang sedang berduka. Ibu dan adik-adik saya beserta pasangannya masih berada di rumah almarhum. Di tengah kesedihan kami mengenang sosok pejuang pendidikan yang sangat luar biasa. Di saat kami berusaha sekuat tenaga menjalankan Pesantren Persatuan Islam (PPI) 183 Almanar Bayongbong Garut ditakdirkan kehilangan sesepuh.

Mang Imam merupakan anak terakhir dari kakek Syaeban dan nenek Ida. Kakaknya ialah wa Dayat, wa Maman, wa Enung, wa Rosyad, bapak Andi, bi Onyas, dan bi Esin. Sebagai anak terakhir maka sangat dicintai oleh kakak-kakaknya. Jang Imam menjadi panggilan yang diberikan para kakak tersebut. Kami keponakannya menyebut dengan Mang Imam atau Amang.

Amang lahir pada 30 April 1974. Tamat SD melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah dan Muallimin di PPI 73 Garogol Samarang yang sekarang menjadi Garogol Pasirwangi. Tamat dari pesantren Amang didorong bapak saya untuk kuliah di PPT, STAI Persis Bandung yang kini menjadi IAI Persis Bandung.

Meski lama meninggalkan kampung halaman hatinya tidak lupa. Termasuk dalam urusan pasangan hidup. Amang menikahi bi Eli Siti Mardiyah yang merupakan adik kelas di PPI 73 Garogol dan Himpunan Remaja Mesjid Almanar (Hirma) Cioyod pada 7 Mei 2000. Dari pernikahannya ini dikaruniai Faqih Firmantara Rabbani, Rafi, Mufti, dan Jundi.

Mengingat ketika kuliah aktif di berbagai kegiatan maka setelah menikah mang Imam beserta bibi tinggal di komplek Panghegar Permai. Di perumahan belakang pasar Gede bage tersebut Amang beserta Bibi mengelola lembaga pendidikan mesjid Al-Fath dan Al-Muhajirin. Dari bangunan sederhana Mang Imam ngajar juga di SMP Al-Amanah dan ATB Ponyo Cipadung Bandung, menjadi dosen di Ikopin Tanjungsari Sumedang, serta pengajian dan khatib di berbagai mesjid seperti di mesjid Sucofindo dan PT Inti.

Walau cukup maju di perantaun keberadaan tanah kelahiran tetap tak tergantikan. Tahun 2008 Amang dan keluarga kembali menetap di Cioyod Mekarjaya Bayongbong Garut. Setelah diangkat menjadi Mudir ‘Am PPI 183 Almanar Bayongbong Garut tahun 2011 Ketua PC Persis Bayongbong Garut ustadz Hada Hidayat menunjuk Mang Imam sebagai Ketua Tim Pembentukan jenjang setelah SD. Tim yang kemudian bernama Tim Sembilan ini beranggotakan Dede Muman, Aan Anwar Musadad, Afan Herdiana, Iwan Sofiansah, Amung Efendi Hidayat, Yanto, dan saya sendiri.

Upaya Tim 9 tersebut maka jenjang SMP dibuka di Almanar. SMP Plus Persis Almanar menjadi nama yang disematkan termasuk dalam Ijin Operasional di Tahun 2014. Yang menjadi Mudir atau Kepala sekolah pertama adalah pa Iwan Sopiansah. Karena berbagai hal sekitar enam bulan kemudian mengundurkan diri, dan PC Persis Bayongbong Garut kemudian menunjuk saya sebagai pengganti.

Karena terlanjur menjadi dosen maka kepemimpinan di SMP tidak saya lanjutkan. Sabtu, 15 Juli 2017 mang Imam dibaiat menjadi Mudir SMP selanjutnya. Kepemimpinan tersebut berlangsung hingga periode kedua yang akan berakhir di Juni 2026. Di usia sekitar 52 Tahun pa Imam meninggal dunia.

Keberadaan SMP Plus Persis Almanar di dalam kampung. Sekitar 500 meter jalan ke lokasi sekolah harus ditempuh melalui gang. Posisi kampung yang tidak terlalu jauh dari kota menyebabkan banyak sekolah dan pesantren yang lebih baik dan telah mempunyai nama. Akan tetapi, layar yang sudah terkembang haram untuk ditutup kembali. Sekuat tenaga Tim 9, Tasykil PC Persis Bayongbong, Tasykil Pimpinan Jamaah Cioyod dan Otonom berupaya keras agar ada murid dan memenuhi standar minimal pendidikan.

Diantara hal yang mau tidak mau harus ditempuh adalah penyediaan asrama. Menggunakan bangunan yang ada SMP Almanar pun mempunyai asrama putra dan putri. Sebagian besar santri dikelola makan dan minumnya oleh pa Imam dan istri.

Di pertengahan tahun 2025 Kemendikdasmen menggulirkan program pembangunan dan perbaikan sekolah. SMP Plus Persis Almanar memperoleh paket rehab satu kelas dan rehab 3 unit WC. Untuk itu Bimtek yang Kedua diikuti oleh pa Imam sebagai Kepala Sekolah dan saya selaku Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP). Kegiatan di salah satu hotel di Pasteur ini masih memberi ruang penambahan unit bangunan. Akhirnya pada 3 September 2025 pa Imam melobi dan kemudian ditetapkan ada tambahan ruang UKS. Tiga item bangunan revit tersebut diselesaikan di pertengahan Desember 2025.

Memasuki 2026 ustadz Imam Mansur, S.Ag. telah merencanakan tasyakur terkait pembangunan revit tersebut. Tanggal dan ustadz pemberi tausiyah telah ditetapkan. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menentukan kehendak-Nya. Pa Imam meninggal sekitar menjelang salat Subuh. Semoga dosa-dosanya diampuni, kebaikannya tercatat sebagai amal saleh, perjuangannya menjadi sodakoh jariyah, anak dan istrinya diberikan kesabaran, dan kami sebagai generasi setelahnya diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuangannya. “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang. Amin ya Rabbal’alamin.” (Yusri; Tarakan, 24 Januari 2026).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *